Kisah 5

Zuhudnya Rasulullah SAW
 
Ketika Khalifah Umar bin Khaththab memimpin wilayah Islam makin luas. Kaum muslimin memasuki masa kejayaannya. Sayyidah Hafshah, umahatul mu’minin, pernah berkata kepada sang ayah, Sayyidina Umar.

“Sebaiknya Ayah berpakaian dengan pakaian yang terbaik apabila kedatangan utusan dari berbagai negara dan perintahkanlah memasak untuk hidangan para utusan itu”.

            Umar menjawab, “Hai Hafshah, bukankah engkau mengetahui bahwa yang lebih tahu akan keadaan seseorang adalah keluarga?”

            Hafshah mengatakan, ” Ya benar!”

            Umar berkata, ” Aku bertanya. Apakah engkau mengetahui bahwa, selama menjadi nabi dan rasul sekian tahun lamanya, Rasulullah SAW tidak kenyang bersama keluarganya diwaktu pagi melainkan mereka lapar diwaktu sore, dan tidak kenyang diwaktu sore melainkan mereka lapar diwaktu pagi?

            Aku bertanya. Apakah engkau mengetahui bahwa, sebagai utusan Allah sekian tahun, Rasulullah SAW tidak pernah kenyang makan kurma, baik beliau sendiri maupun bersama keluarganya, sampai Khaibar dikuasainya? (Khaibar adalah daerah terakhir sekitar Madinah yang menetang islam).

            Aku bertanya. Apakah engkau mengetahui bahwa engkau pernah menghidangkan makanan di atas meja agak sedikit tinggi kepada Rasulullah SAW dan ketika itu beliau keberatan, sehingga berubah warna wajahnya, lalu beliau memerintahkan supaya meja itu disingkirkan dan makanan tersebut diletakkan ditempat yang lebih rendah atau diletakkan diatas tanah?

            Aku bertanya lagi. Apakah engkau mengetahui bahwasannya Rasulullah SAW tidur diatas baju yang dilipat dua?

            Pada suatu malam baju itu dilipat empat, dan beliau tidur diatasnya. Ketika bangun disebabkan itu, beliau berkata, “Engkau semua telah menghalangiku dari sholat malam disebabkan baju ini. Lipatlah dua sebagaimana kalian melipatnya!”.

            Demikian Umar berkata, sehingga Hafshah menangis dan Umar sendiri pun ikut menangis.

 Jalan para Sufi

            Itulah sifat zuhud Rasulullah SAW, yang telah menempati tingkat tertinggi. Karena sesungguhnya zuhudnya beliau adalah zuhud seorang yang bebas, tidak terpaksa dan zuhud seorang yang mampu, yang percaya bahwa bersuka ria dengan barang yang mubah adalah halal tapi beliau lebih mengutamakan kepentingan orang-orang miskin dan kemaslahatan  Islam daripada kepentingan dirinya sendiri.

            Dengan sifat zuhudnya, beliau mendidik para pengikutnya agar mereka berakhlaq seperti akhlaqnya. Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq, Sayyidina Umar bin Khaththab, Sayyidina Ali bin Abi Thalib, dan sahabat-sahabat yang lain, telah mengikuti jejak beliau.

            Zuhudnya Rasulullah SAW merupakan pengamalan ayat, ” Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Kesenangan didunia ini hanya sebentar, sedangkan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa'”. QS An-Nisa’ (4):77. Inilah yang kemudian menjadi pegangan para sufi dan mukmin hingga sekarang. (SB*AM)

 Sumber Majalah Alkisah No.09 Tahun 2008

%d blogger menyukai ini: