Kisah 1

Semerbak Wangi Seorang Suhada

Panas yang membara seolah membakar udara kota Basrah (iraq). Angin padang pasir yang disertai debu membuat pemandangan menjadi terbatas. Suasana seperti ini membuat orang enggan untuk keluar rumah. Namun tidak demikian dengan para mujahid pembela agama Allah SWT.
Dipadang pasir yang gersang itu, pada tahun 82 Hijriah, pasukan muslimin, di bawah pimpinan Ibnu Al-Asy’ats, tengah berperang melawan tentara musyrikin, dibawah pimpinan Al-Hajjaj, dalam peperangan yang terkenal dengan nama Az-Zawiyyah.
Peperangan tidak hanya sekali terjadi, dan memakan waktu yang lama. Ada yang disebut Perang Dujail, Pertempuran Dir Al-Jumajin, Perang Al-Ahwaz, dan lain-lain.
Perang Az-Zawiyyah merenggut korban yang tidak sedikit. Dalam peperangan itu sekitar 30.000 penunggang kuda dan 150.000 pasukan infanteri Ibnu Al-Asy’ats terbunuh sebagai syahid. Mereka terdiri dari para ulama, fuqaha dan orang-orang shalil lainnya. Kaum muslimin memerangi Al-Hajjaj karena kezhaliman dan kekejamannya.

Menuju Jannah
“Marilah kita berangkat menuju Jannah”, begitu teriakan yang dilantunkan Abdullah bin Ghalib setelah ia berdo’a sambil mengguyurkan air ke tubuhnya. Saat itu ia sedang berpuasa sunnah. Abdullah memang dikenal sebagai ahli ibadah. Setelah itu ia mencabut pedang dan masuk ke dalam arena pertempuran.
Abdul Malik bin Muhallab yang melihat hal itu, memanggilnya dan mengingatkan, “Kamu tak perlu terjun dalam peperangan… kamu tak perlu terjun dalam peperangan!” ia tahu betul bahwa Abdullah sedang berpuasa. Dengan berpuasa itu saja pahalanya tidak kalah tinggi nilainya dengan pahala orang yang maju perang.
Al-Baihaqi, salah seorang periwayat hadist, mengisahkan, sebelum itu Abdullah berkata, “ Hari ini aku melihat sesuatu yang membuatku tidak bisa menahan diri untuk tidak terjun dalam peperangan. Maka marilah kita berangkat bersama-sama menuju Jannah!”.
Sedangkan Aun bin Syadad menyatakan, pagi itu, sebelum meneriakkan seruan “marilah menuju Janaah”, Abdullah bin Ghalib Shalat Dhuha seratus rakaat. Selesai shalat ia berkata, “Untuk inilah kita diciptakan, dan dengan inilah kita diperintahkan, sehingga hampir-hampir para ahli ibadah meminta-minta dan menjadi kikir”.
Dalam Perang Az-Zawiyyah, Abdullah gugur sebagai syuhada bersama para shalihin lainnya. Ketika dilakukan upacara pemakaman dirinya, setiap orang mencium bau wangi kesturi dari kuburnya.
“Aku segera pergi menuju ke makam Abdullah dan aku ambil sedikit tanah dari makamnya, aku usapkan ke baju dan aku mencium bau wangi kesturi”, kata sahabat Malik bin Dinar.
Ja’far bin Sulaiman berkata, “Sesudah Abdullah bin Ghalib terbunuh, segera ia dimakamkan. Sedangkan orang-orang mengambil tanah dari kuburnya karena berbau wangi laksana kesturi, dan diusapkan pada baju mereka”.
Allah memuliakan orang-orang yang membela agama-Nya. Mereka ikhlas mengorbankan nyawanya untuk Allah. (Bill*AM)

Sumber : Majalah Alkisah No.09 Tahun 2008

%d blogger menyukai ini: