PLURALISME AGAMA KEYAKINAN KAFIR

FIQH LINTAS AGAMA

DIKECAM DIMANA-MANA

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Buku Fiqih Lintas Agama (FLA) dikecam dimana-mana karena isinya  menyelisihi ajaram islam, menyesatkan, bahkan menuju kepada kepercayaan kemusyrikan yang sangat dilarang dalam islam dan dosa paling besar. Itu semua karena ajaran yang diusung tim penulis Paramadina 9 orang itu adalah aqidah syirik, yaitu pluralisme agama, menyamakan semua agama.

Penyelewengan buku FLA itu telah dibabat dalam buku berjudul Mengkritisi Debat Fikih Lintas Agama karya Hartono Ahmad Jaiz. Kemudian lebih ditegaskan lagi uraian tentang rusaknya pemahaman FLA itu dalam buku Hartono Ahmad Jaiz yang berjudul Menangkal Bahaya JIL (Jaringan Islam Liberal) dan FLA (Fiqih Lintas Agama), terbitan pustaka Al-Kautsar, Jakarta. Masih pula ustadz Agus Hasan Bashori menguliti buku amat sesat itu dalam Koreksi Total Buku Fiqih Lintas Agama, terbitan  Pustaka Al-Kautsar Jakarta. Borok-borok FLA dibeberkan dan juga berbagai kerusakan muatan dan metodologinya.

Buku berbahaya karena mengusung faham kekafiran, pluralisme Agama, yang diterbitkan Paramadina Jakarta itu ternyata kemudian diterbitkan pula dalam bahasa Inggris oleh ICIP (International Center for Islam and Pluralism) pimpinan Dr. Syafii Anwar di Jakarta, 2006 dengan judul “Interfaith Theology responses of Progressive Indonesian Muslims” (diterbitkan atas dukungan dari The Asia Foundation,2006). Tim penulis buku ini adalah Zainun Kamal, Nurcholish Madjid, Masdar F, Mas’udi, Komaruddin Hidayat, Budhy Munawar Rachman, Kautsar Azhary Noer, Zuhairy Misrawi, dan Ahmad Gaus AF. Buku ini merupakan edisi Bahasa Inggris dan buku Fiqih Lintas Agama, (Jakarta, Paramadina,2004).

Dalam hal mengusung aqidah yang membahayakan umat ini, ICIP dengan bukunya itu disoroti tajam oleh Adian Husaini, seorang aktivis anti sepilis (sekulerisme, pluralisme Agama dan liberalisme) di Jakarta, dengan tulisannya, “Pluralisme Agama Model ICIP”, sabtu 10 Mei 2008 Catatan Akhir Pekan (CAP) Adian Husaini ke-234 Oleh: Adian Husaini, www,hidayatullah.com

Tidak Ilmiah

Buku FLA Paramadina ini sangat tidak ilmiah, memalukan dan menghina serta melecehkan sahabat Nabi SAW terutama Abu Hurairah (FLA, hal 70), dan juga para ulama terutama imam Syafi’I, serta memutarbalikkan pernyataan imam Ibnu Taimiyyah.

Seorang ustadz di Solo menegaskan, buku FLA itu sangat jauh dari metodologi ilmiah, apalagi manhaj dalam memahami islam dan beristinbath (menyimpulkan hukum).

Bayangkan, untuk membolehkan hadir diupacara-upacara hari besar orang kafir, dalam buku FLA itu landasannya antara lain hadirnya Yasser Arafat bersama isterinya Suha, di acara misa tengah malam di Gereja Saint Catherine di Bethlehem, dan menghadiri Perayaan Malam Natal di Gereja Kelahiran Kristus di kota yang sama, setelah menghadiri dan mengikuti acara tarawih di masjid dekat gereja itu. (FLA hal 85).

Lalu dihalaman 86 dikemukakan, ketua MPR RI Amien Rais menghadiri perayaan Natal di Gereja Sentrum Tondano, ibukota kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara pada Selasa 19 Desember 2000.

Komentar Ustadz ini, fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) dan juga sebelumnya imam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Iqtudha’ush Shirathil Mustaqiem Limukhalafati Ashabil Jahim mendasari larangan menghadiri upacara hari besar orang kafir itu pakai ayat, diantaranya ayat :

“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsau” (QS Ak-Furqon:72)

Azzur di situ para tabi’in mengartikan hari-hari besar orang musyrikin atau kafir. Jadi tidak menghadiri upacara perayaan orang kafir.

Untuk mengharamkan hadir di perayaan orang kafir dengan memakai ayat seperti itu, itulah cara yang ditempuh oleh ulama, dan sesuai dengan keilmuan Islam. Tetapi kalau model Nurcholish Madjid cs dalam tim 9 orang dari Paramadina dibuku FLA ini, untuk membolehkan hadir diperayaan orang kafir, landasannya Yasser Arafat dan ketua MPR. Ini ilmiahnya dimana ?

Kalau Islam dibangun diatas pelanggaran-pelanggaran orang, maka hak Allah itu dimana?

Tandas ustadz yang tinggal di Solo ini.

Kecerobohan dan pemutarbalikan yang semena-mena memang tampak jelas dibuku FLA.

Hartono Ahmad Jaiz mencontohkan, buku FLA halaman 167: “Dan logikanya, bila Islam menghargai agama lain dan mempersilakan pernikahan dengan agama lain, maka secara otomatis waris beda agama diperbolehkan.”

Ungkapan FLA itu mengandung pemelintiran dan bahkan logika talbisul haq bil batil (mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan).

Kata-kata “mempersilakan pernikahan dengan agama lain” itu jelas bikin-bikinan Tim Paramadina. Karena didalam Islam justru dilarang menikah dengan orang kafir (lihat QS Al-Mumtahanah/60:10), yang cakupan orang kafir itu adalah Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) dan Musyrikin (lihat QS Al-Bayyibah:6). Juga ditegaskan larangan nikah dengan musyrikat dan musyrikin (lihat QS Al-Baqarah:221). Kemudian hanya ada pengecualian berupa mushonat (wanita baik-baik yang menjaga diri dan kehormatannya) dari Ahli Kitab (lihat QS Al-Maaidah:5).

Sekarang budaya orang Yahudi dan Nasrani bisa dilihat terutama di Barat, bagaimana mereka dalam hal free love bahkan free seks (kebebasan berzina) sudah terkenal didunia ini. Apakah mereka masih tergolong muhshonaat, masih perlu diperbincangkan. Tahu-tahu FLA membuat kalimat liar. “Islam menghargai agama lain dan mempersilakan pernikahan dengan agama lain”. Kalimat liar Paramadina itu sangat menyimpangkan ayat dari makna dan kenyataan.

Memperkosa ayat dan hukum Islam

Setelah “mereka memperkosa” ayat, lalu belum puas, maka “memperkosa” hukum waris Islam. Mereka mengatakan, “maka secara otomatis waris beda agama diperbolehkan”. Pertanyaan kepada mereka: “Bukankah hukum pernikahan itu ada sendiri didalam Islam, sedang hukum waris  juga ada sendiri dengan dengan dalil-dalil masing-masing?

Kalau main logika “boleh dinikahi maka otomatis boleh mendapatkan waris” seperti itu, maka kita tanyakan kepada mereka. “Bolehkah kamu menikahi ibumu?”

Tentu jawabnya, “Tidak boleh.”

“Bolehkah kamu menikahi anak perempuanmu?”

Pasti jawabnya, ” Tidak boleh”

Kalau cara berfikir model Paramadina, maka jadinya : Karena ibu dan anak perempuan tidak boleh dinikahi, maka otomatis ibu dan anak perempuan tidak boleh mendapatkan waris.

Logika Paramadina cukup dibalikkan kepada mereka. Biar mereka makan itu logika amburadulnya, karena justru anak dan ibu itu adalah pihak yang mendapatkan waris. Maka jelas sesatlah buku FLA yang ditulis 9 orang dari Paramadina itu.

Paling Parah

Yang paling parah dari FLA ini adalah aqidahnya, yaitu aqidah pluralisme agama. Disana ditulis “Teologi pluralis tentang agama-agama, yang sering disebut pluralisme, memandang bahwa semua agama, meskipun dengan jalan masing-masing yang berbeda menuju satu tujuan yang sama: Yang Absolut, Yang Terakhir, Yang Riil.” (FLA hal 65).

Dalam dialoq terbuka di Pameran Buku Islam Nasional di Senayan Jakarta, karena ada peserta yang menganggap bahwa mendebat faham lain seperti itu todak perlu, maka Hartono Ahmad Jaiz mengemukakan jawaban-jawaban. Diantaranya, justru Allah SWT telah membantah aqidah orang Nasrani dengan menurunkan ayat dari awal Surat Ali Imran sampai hampir ayat ke 90.  Sedangkan Nurcholos Madjid cs dengan aqidah pluralisme agama berlandaskan tuduhan terhadap QS Al-Baqarah:62 itu adalah melanjutkan tuduhan orang Nasrani yang menganggap Al-Qur’an menyamakan agama-agama. Dan tuduhan Nasrani itu telah dibantah 700 tahun yang lalu oleh Imam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Daqoiqut Tafsir juz 2 halaman 70. Namun kini faham Nasrani itu justru diusung oleh Nurcholis madjid cs dengan nama pluralisme agama dan sering memelintir ungkapan Ibnu Taimiyyah.

Tuduhan Nurcholis madjid dan orang-orang pluralisme agama dengan menyelewengkan maksud ayat 62 Surat Al-Baqarah dan ayat 69 Surat Al-Maidah itu telah dibantah  oleh Hartono Ahmad Jaiz, dengan mengemukakan penafsiran ayat tersebut dari empat ulama beasr, Ibnu Katsir, As-Sa’di, Ibnu Taimiyyah dan As-Syathibi. Tafsir dari empat ulama yang terpercaya itu dituangkan dalam buku Bunga Rampai Penyimpangan Agama di Indonesia, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta 2007.

Teologi Pluralisme itu Kafir

Terhadap aqidah pluralisme agama itu, Hartono membacakan petikan fatwa Lajnah Daimah dan juga terdapat dalam lampiran disertasi Dr Ahmad Al-Qadhi yang berjudul Da’watut Taqrib bainal Adyan 4 jilid, terbitan Darul Jauzi, Damam Saudi Arabia, 1422 H. Inti fatwa Lajnah Daimah itu :

“Dan diantara ushulil Islam (prinsip-prinsip Islam) bahwa wajib yakin kekafiran setiap orang yang tidak masuk Islam, yaitu Yahudi, Nasrani dan lainnya, dan menamakannya kafir. Dia adalah musuh bagi Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang Mukmin, dan dia termasuk ahli (penghuni tetap) neraka. Sebagaimana Firman Allah Ta’ala :

“Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata” (QS Al-Bayyinah:1)

Dan firman-Nya :

“Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka jahannam, mereka kekal didalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk” (QS Al-Bayyinah:6) dan ayat-ayat lainnya.

Dalam kitab Shahih Muslim ada riwayat yang shahih dari Nabi SAW, diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Rasululah SAW bahwa beliau bersabda:

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada ditangan-Nya, tidaklah seseoranng dari umat ini yang mendengar (agama)ku, baik dia itu seorang Yahudi maupun Nasrani, kemudian dia mati dan belum beriman dengan apa (Islam) yang aku diutus dengannya, kecuali dia termasuk penghuni neraka.” (HR Muslim bab “Wujubul limaan birisaalati nabiyyinaa rilaa jamii’in naasi wa naskhul milal bimillatihi” (wajibnya beriman kepada risalah nabi kita bagi seluruh manusia dan penghapusan agama-agama dengan agama beliau).

Oleh karena itu, siapa yang tidak mengkafirkan Yahudi dan Nasrani maka di kafir. Hal ini bertolak dari kaidah syari’ah. Barangsiapa  tidak mengkafirkan orang kafir maka dia kafir (man lam yukaffir al-kafir fahuwa kafir). (Fatwa Lajnah Daimah Lilbuhutsil Ilmiyyah wal ifta’, nomor 19402, tanggal 25/1/1418 H, lampiran Kitab Da’watu Al-taqrib bainal Adyan, Dr Ahmad bin Abdul Rahman bin Utsman Al-Qadhi, Daru Ibnul Jauzi, Damam Saudi Arabia, cetakan , 1422 H, juz 4, halaman 1663).

Dalam pembahasan tentang buku Fiqih Lintas Agama karya tim Paramadina, seorang ustadz di solo mengingatkan sejarah, ada tokoh namanya Ja’d bin Dirham, itu percaya Al-Qur’an dan percaya Hadits, hanya saja tidak percaya bahwa Nabi Ibrahim itu Khalilullah (kekasih Allah) dan Nabi Musa itu  Kalimullah (orang yang pernah diajak bicara Allah). Karena tidak percaya itulah maka kemudian Gubernur Kholid bin Abdullah Al-Qasri berkhutbah di Wasith (wilayah Iraq) pada hari Raya Adha, dia (Gubernur) berkata :

“Pulanglah kamu sekalian, lalu sembelillah wurban, semoga Allah menerima qurban-qurban kalian. Maka sesungguhnya aku akan menyembelih ja’d bin Dirham, karena dia menyangka bahwa Allah tidak berbicara kepada Musa dan tidak menjadikan Ibrahim itu khalil (kekasih). Maha Tinggi Allah dari apa yang dikatakan Ja’d yang menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.”

Kemudian Gubernur Kholid turun (dari mimbar) dan menyembelih Ja’d bin Dirham. (As-Showa’iqul Mursalah, juz 4, halaman 2396).

sumber Qiblati edisi 11/III, Agustus 2008

%d blogger menyukai ini: