Hasil Ijtihad Kaum Sufi Tentang Kekhususan Nabi Muhammad saw

Hasil Ijtihad kaum sufi tentang kekhususan, kemuliaan dan keutamaan Nabi Muhammad saw. Atas para nabi dan rosul yang lain yang diambil dari memahami hadist

Syekh Abu Nashr as-Sarraj- rahimahullah – berkata: Adapun hasil ijtihad mereka dalam menafsirkan Hadis-hadis Rasululah saw. adalah sebagaimana mereka memberi makna sabda Rasululah saat berdoa dalam sujudnya:

Aku berlindung diri dengan ridha-Mu dari murka-Mu dan gan ampunan-Mu dari siksa-Mu, dan dengan-Mu dari-Mu. tidak sanggup menyanjungkan pujian kepada Diri-Mu sebagaimana Engkau memuji Diri-Mu sendiri. ” (H.r. Muslim, lik, Abu Dawud, Nasa’i dan Tirmidzi).

Kaum Sufi mengatakan ketika Allah swt. Berfirman:

” bersujudlah dan mendekatlah (engkau Muhammad).” (Q.s. al- aq: 19).

Maka Rasulullah saw. dalam sujudnya menemukan makna kedekatan yang dalam, sehingga beliau berdoa:

Aku berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu dan dengan ampunanMu dari siksa-Mu.

Beliau memohon perlindungan dengan Sifat-Nya dari Sifat-Nya pula.
Kemudian beliau menyaksikan makna lain dari kedekatan itu yang di dalamnya terkandung kedekatan makna yang beliau saksi kan lewat Sifat-sifat-Nya. Kemudian beliau melanjutkan doa ‘Aku berlindung dengan-Mu dari-Mu’. Sebelumnya, beliau mohon perlindungan dengan Sifat-Nya dari Sifat-Nya. Maka  tatkala beliau memohon perlindungan dengan-Nya, tak lain yang diminta perlindungan hanyalah dari-Nya.
Kemudian ditambah lagi kedekatan dengan-Nya, yang kemudian dari musyahadah itu beliau menemukan satu makna yang menjadikannya fana untuk minta perlindungan dengan-Nya.

Di akhir doanya, beliau berkata, ‘Aku tidak sanggup mengungkapkan pujian kepada Diri-Mu sebagaimana Engkau memuji Diri Mu sendiri.

Maka beliau merasa malu memohon perlindungan dengan-Nya saat posisi sangat dekat dengan-Nya. Sehingga beliau terpaksa hanya bisa memuji kepada-Nya“.

Orang yang tidak mampu memohon perlindungan, sebagai sikap penghambaan (ubudiyyah), maka bagaimana ia sanggup menyanjungkan pujian, dimana pujian itu merupakan Sifat Ketuhan (Rububiyyah)?

Oleh karenanya beliau berkata, “Aku tidak sanggup menyanjungkan pujian kepada Diri-Mu.

Kemudian beliau juga mer malu untuk menyanjungkan pujian kepada-Nya dalarn posisi kedekatan dengan-Nya. Maka beliau mengecualikan dirinya dari pujian yang pantas untuk disanj ungkan kepada-Nya, sebagaima Allah memuji Diri-Nya sendiri sebelum para makhluk memuiNya, Dia memberikan kesaksikan bagi Diri-Nya sendiri akan Kemahaesaan (Wahdaniyyah) sebelum para makhluk memberi kesaksiannya. Sehingga beliau berkata, “Anta kama atsnaita ‘ala nafsika” (Sebamana Engkau memuji Diri-Mu sendiri.)

Inilah hakikat puncak kedekatan dan hakikat tajrid (pengesaan dimana seorang hamba habis tak tersisa sebagaimana ia tidak pernah ada. Sedangkan Allah senantiasa Ada dan wujud.

 Andaikan seluruh isyarat kaum yang sanggup menghayati dengan hati, orang-orang arif dan mereka yang sanggup mengaktualisasikan kebenaran secara hakiki tentang tauhid dirangkum, niscaya ungkapan mereka tak akan mencapai seperspuluh dari isyarat yang dikatakan Rasulullah saw. Tentang makna ini. Juga sabda Rasulullah saw:
Rasulullah saw. bersabda, “Aku adalah orang yang. paling tahu di antara kalian tentang Allah.” (H.r. Bukhari), dan sabdanya  “Andaikan kalian tahu apa yang aku tahu.” Dalam sabdanya Rasulullah memberikan isyarat beberapa makna tentang kekhsusan dirinya, dimana isyarat itu tidak akan sanggup dijangkau oleh akal dan pemahaman, serta tidak dapat dipahami oleh ilmu seluruh makhluk.

Di antara isyarat tersebut ialah sabda Rasulullah saw :

Aku tidaklah seperti kalian, sesungguhnya aku senantiasa berada dalam lindungan Tuhanku Yang memberiku makan dan minum.”

 

Dari isyarat ini maka tidak seorang pun bisa memberi tahu tentang makanan dan minuman apa yang diberikan Allah kepada Rasulullah saw. Sebab Nabi saw. yang kedudukannya begitu tinggi dan mendapatkan ilmu khusus dari Allah tidak memberi tahu atau menjelaskan makanan atau minuman tersebut.
Kaum Sufi juga memberikan interpretasi suatu makna tentang suatu doa yang pernah Rasulullah ucapkan:

Ya Allah, peliharalah aku laksana (orangtua) memelihara anak(nya). Janganlah Engkau serahkan aku pada diriku sendiri sekalipun hanya sekejap mata. Aku hadapkan wajah (diri) kepada-Mu dan aku sandarkan tulang punggungku kepadaMu. Sesungguhnya tidak ada tempat berlindung dan tempat untuk mencari keselamatan dari-Mu kecuali kepada-Mu” (H.r. Bukhari-Muslim dan al-Hakim).
Dan doa-doa yang serupa dengan doa ini, dimana Rasulullah saw. menampakkan dirinya selalu butuh perlindungan-Nya, memerlukan bantuan-Nya dan merendahkan di sisi-Nya, dengan tidak pernah melihat ada gerak yang muncul dari gerakannya sendiri tidak pernah menyandarkan perbuatannya pada dirinya sendiri Abu Bakar Al-Washity  berkata, “Dengan sikap yang jujur dalam minta perlindungan dan menunjukkan kebutuhan dan kefakir yang sebenarnya, maka rahasia-rahasia hati akan  terhiasi.
Dikatakan pula tentang ucapan Rasulullah saw. saat menjelang wafatnya, (“Aduh, susahnya!”). Maka para Sufi mengatakan, bahwa kematian begitu ringan menjemputnya karena beliau ingin segera melihat berbagai kedudukan tinggi yang beliau perhatikan menjelang wafatnya. Sehingga ucapan, ‘Aduh, susahnya!” lah susah dan terlalu lama untuk tinggal bersama kalian, karena lalu rindu untuk bertemu dengan Dzat Yang dicintai.
Saya pernah mendengar Muhammad bin Dawud ad-Dinawari yang dikenal dengan sebutan ad-Duqqi – berkata: Saya mendengar al-Jurairi, Dikatakan kepada al-Junaid – rahimahullah, Apa makna sabda Nabi, Dan aku adalah tuan (sayyid) untuk anak cucu Adam, dan aku tidak merasa bangga. Maka Junaid berkata, Coba katakan apa yang terbersit dalam benak anda? Kemudian aku jawab, bahwa makna sabda Nabi, Dan Aku adalah tuan (sayyid) seluruh anak cucu Adam, dan aku tidak merasa bangga. adalah bahwa ini karunia-Nya dan aku tidak pantas bangga dengan karunia (pemberian), sebab aku harus bangga dengan Sang Pemberi karunia. Maka al-Junaid berkata padaku, Benar sekali apa yang engkau katakan wahai Abu Muhammad.

 

Al-Junaid juga ditanya tentang makna sabda Rasulullah perihal Zainab istri Zaid yang dianggap putra Nabi. Padahal Zaid hanya orang anak ankat, dan bukan anak kandung. Maka Allah mengnginkan agar Rasulullah menikah dengan bekas isteri (janda) anak
angkatnya sehingga ada perbedaan status antara anak angkat dengan anak kandung sendiri.

Al-Junaid juga berkata tentang makna sabda Rasulullah saw:

Beristighfar (meminta ampun)1ah kalian kepada Allah dan bertobatlah kepada-Nya, karena sesungguhnya aku beristighfar dan bertobat kepada-Nya seratus kali dalam sehari. ” ( al-Hakim dan ath-Thabrani dari Abu Musa).
Kaum Sufi mengatakan, bahwa kondisi spiritual (haal) Nabi saw. dengan Allah dalam setiap detik, setiap hembusan nafas dan kedipan mata akan selalu bertambah. Maka tatkala kondisi spirit Rasulullah semakin bertambah dan semakin tinggi, maka semakin mulia pula daripada kondisi spiritual pada detik (hembusan nafas sebelumnya. Sehingga beliau beristighfar dan bertobat dari kondisi spiritual sebelumnya).

Al-Junaid – rahimahullah -juga ditanya tentang makna sabda Rasulullah saw., “Semoga Allah senantiasa memberi rahmat kepada saudaraku Isa a.s. -Andaikan ia semakin bertambah yakin, ia akan berjalan di angkasa. ”  Maka Junaid menjawab, maknanya adalah dan hanya Allah Yang Maha Tahu  bahwa Isa a.s. berjalan di atas air karena keyakinan yang kuat, sedangkan Nabi saw. berjalan di angkasa saat malam Isra’ dan Mi’raj,  karena beliau lebih yakin dari Isa a.s.

 

Oleh karenanya beliau bersabda:

Andaikan ia semakin bertambah yakin. ” Nah andaikan ia diberi keyakinan yang lebih sebagaimana yang diberikan kepadaku, maka. ia akan berikan di angkasa. Dimana Rasulullah saw. memberitahukan tentang kondisi spiritualnya.”

 

Saya pernah mendengar al-Hushri  rahimahullah  mengatakan tentang makna sabda Rasulullah saw.:

Aku memiliki waktu dengan Allah yang tidak cukup untuk apa pun selain Allah Azza wa jalla. “” (Sanadnya tidak diketahui)
Al-Hushri mengatakan jika ucapan ini benar (shahih) dari Rasulullah  dan beliau mengatakan hal itu, atau bahkan tidak shahih sekali pun, maka sesungguhnya seluruh waktu Rasulullah saw. Tidaklah cukup untuk selain Allah dengan hatlinurani dan rahasianya
Namun dengan sifat-sifatnya beliau dikembalikan kepada seluruh makhluk untuk tugas pendidikan dan memberitahu mereka. Dan pada sifat-sifat beliau berlangsung seluruh bentuk hukum, agar mereka mengambil manfaat dan suriteladan darinya.

Maka apabila sinar-sinar rahasia hatinya tampak pada sifat-sifatnya maka beliau akan menariknya dari manusia. Sebagaimana yang dicerita Aisyah, ‘Aku pernah terbangun pada suatu malam, namun idak menemukan Rasulullah saw. di tempat tidur. Lalu aku pun mencarinya. Ternyata tanganku menyentuh kedua kaki yang saat itu sedang tegak dalam posisi sujud kepada Allah Azza wajalla.
Dan aku mendengar beliau berdoa dalam suiud ‘Aku berlindung diri dengan ridha-Mu dari murka-Mu dan dengan ampunan-Mu dari siksa-Mu … ” (al-Hadis)
Inilah waktu yang tampak pada rahasia hatinya, sementara berbagai cahaya memancar pada stfat-sifatnya.

Apabila ragam cahaya itu kembali ke rahasia hatinya maka beliau  mengembalikan dengan sifatnya kepada seluruh makhluk mereka bisa mengambil manfaat dan suriteladan. Maksud dari sifatnya adalah lahiriahnya, sedangkan rahasianya adalah batinnya.

%d blogger menyukai ini: