Jemaah Indonesia Minta Pemerintah Segera Sewa Pemondokan

Mekkah, 3/12 (MCH) – Sejumlah jemaah haji Indonesia meminta pemerintah untuk segera menyewa pemondokan haji 2009 di dekat Masjidilharam di Mekkah selang beberapa waktu setelah pelaksanaan haji 2008 selesai.
“Cukup sekali ini saja, pemondokan haji kita jauh jaraknya. Solusinya, pemerintah jangan berpatokan pada BPIH dulu, tapi gunakan dulu uang setoran awal Rp20 juta/jemaah,” kata jemaah kloter (kelompok terbang) 58 SUB (Surabaya) Imam G Said di Mekkah, Rabu.

Jemaah yang menempati pemondokan di Syauqiyah-620 yang berjarak 10 kilometer dari Masjidilharam itu mengemukakan hal itu sebagai dukungan atas desakan anggota Komisi VIII DPR RI saat meninjau pemondokan di sektor 6 dan 7 yang berjarak 8-10 kilometer dari Masjidilharam.

“Pemerintah bisa menggunakan DAU (Dana Abadi Umat), APBN, dan optimalisasi bunga dari uang setoran Rp20 juta per-jemaah yang mendaftar naik haji,” kata anggota Komisi VIII DPR RI KH Moh Hasib Wahab di sektor 6, Mekkah (2/12).

Menurut Imam G Said yang pernah tinggal di Mekkah untuk studi itu, pemanfaatan uang setoran awal jemaah sebesar Rp20 juta per-orang dan “ngendon” 3-4 tahun di rekening Depag itu berjumlah triliunan, sehingga pemondokan jemaah haji ke depan dapat berada di ring I.

“Ring I itu berjarak tidak lebih dari satu kilometer dan saya sendiri tahu banyak pemondokan yang berjarak sedekat itu, tapi harganya bisa 3000 riyal per-orang, Saya sendiri sudah survei kepada jemaah, ternyata mereka mau,” katanya.

Bahkan, katanya, jemaah haji mengaku lebih baik tidak mendapatkan pengembalian 215 riyal dan kalau perlu justru menambah 300-an riyal, asalkan mendapatkan pemondokan yang kurang dari satu kilometer dari Masjidilharam.

“Masalahnya, kalau pemondokan jauh dan kami justru harus membayar ongkos kendaraan, sebab kalau naik bus yang disediakan pemerintah cukup antre hingga perjalanan dua jam ke Masjidilharam, maka lebih baik ada pemondokan di dekat Masjidilharam,” katanya.

Oleh karena itu, dirinya juga sepakat kalau jemaah tidak diberi uang sisa sewa pemondokan dan bahkan menambah beberapa ratus riyal, asalkan mendapatkan rumah di dekat Masjidilharam.

Senada dengan itu, jemaah asal Semarang, Jateng, Pramono menhgaku dirinya memang mendapatkan pengembalian uang sisa pemondokan 215 riyal, tapi kalau naik kendaraan umum ke Masjidilharam bisa ditarik 7-10 riyal untuk sekali jalan, sehingga pengembalian itu tidak ada artinya.

“Apalagi, kalau saya ke Masjidilharam selama di Mekkah, maka uang pengembalian itu bisa habis dalam waktu hampir satu bulan, apalagi saya juga harus beli makanan dan sebagainya,” katanya.(Edy M Yakub)

sumber : depag.haji.go.id

%d blogger menyukai ini: