Tentang Allah Ta’ala (Bagian 1)

Aqidah

Berasal dari kata aqada yang berarti “mengikat (tali)”, “membuat simpul”. Aqidah bermakna keyakinan atau kepercayaan. Aqidah dalam ranah ilmu ke-Islam-an, disebut juga ilmu kalam, ilmu ushuluddin, ilmu tauhid. Dari segi istilah, ilmu aqidah ialah ilmu yang mempelajari pengetahuan tentang keyakinan-keyakinan dasar (ushuliyyah) perihal keimanan kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, serta taqdir-Nya.

Sedangkan ilmu kalam lebih ditunjukkan kepada ilmu yang mempelajari pemikiran-pemikiran theologi yang diperbincangkan para ahli kalam (mutakallimin), seperti Al-Qur’an itu makhluk atau bukan, suatu tempat yang diyakini kaum Mu’tazilah di antara surga dan neraka (manzilah baynal manzilatain), dan sebagainya.

Al-‘Aqidah Al-Mujmalah

Istilah ini ditujukan pada bacaan yang dibacakan sebagai pernyataan kesaksian (syahadaH) dan kerelaan (ridha) ke-Islaman, sebagaimana yang disusun Quthbul Irsyad wal Bilad Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad. Bacaan tersebut berbunyi, ” Radhitu billahi rabba, wa bil islami dina, wa bimuhammadin nabiyyan wa rasula, wa tabarra’tu min kulli dinin yukhalifu dinal islam…(dan seterusnya)”.

Asmaul Husna

Nama-nama Allah Ta’ala yang indah, bagus dan agung. Nama-nama Allah ini tersusun sebanyak 99 nama, sebagaimana tersebut dalam sebuah hadist yang berbunyi “Sesungguhnya Allah mempunyai 99 nama, yakni seratus kurang satu. Barang siapa menghafalnya, niscaya akan masuk surga.” (shahih Al-Bukhari, Juz IV)

Mengenai jumlah 99 itu, ada pula yang menambahkannya hingga berjumlah lebih dari seratus nama. Seperti Abdullah bin Ahmad, yang menyebutkan sejumlah nama, seperti Qahir (Yang Mahaperkasa), Fashil (Yang Maha Memisahkan), Faliq (yang Maha Menyingsingkan), Jawwad (maha Pemurah) dan Ahkamul Hakimin (hakim yang Paling Adil). Abubakar An-Nuqasyi, dalam kitab Al-Asma wash Shifat, menyebutkan, Ja’far bin Muhammad Ash-Shadiq berkata bahwa Allah memiliki 360 nama. Namun demikian, kesemuanya ini telah diwakili jumlah 99 nama-Nya itu.

Azza wa Jalla

Gelar dibelakang penyebutan nama Allah, artinya (Allah) yang agung dzat-Nya dan mulia sifat-Nya. Adakalanya disebut Sub-hanahu wa Ta’ala, yang artinya (Allah) Yang Suci dan Tinggi.

Dzat

Esensi ketuhanan yang wajib adanya pada Allah Ta’ala. Dalam kajian filsafat berarti karakter sesuatu yang berada dalam sesuatu yang tidak terpisahkan.

Istiwa

“Bersemayamnya” Allah Ta’ala disuatu tempat yang dinamakan Arsy. Makna “bersemayam” tidak bisa ditakwilkan seperti “mendiami” atau “bertempat”. Dalam pandangan Asy’ariyah, istiwa hanya bisa ditakwilkan “berada diatas”, sedangkan hakikatnya hanya Allah Yang Mahatahu.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ummu Salamah, istri Nabi SAW, ia berkata, “Cara bersemayam-Nya tidak bisa dicerna oleh akal, walaupun bersemayam itu bukan sesuatu yang asing. Mengimaninya adalah wajib, sedangkan mengingkarinya adalah kufur.” (HR Muslim)

Qadha (Ilmu Tauhid)

Ketetapan Allah yang belum terjadi atau perintah Allah yang berlangsung hingga akhir zaman. (AB*AM)

Sumber : Alkisah No.10/Tahun VI/ 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: