Taqwa Antara Fitnah Dunia dan Balasan Surga

Dari segi kata, taqwa diambil dari kata wiqayah, yaitu sesuatu yang menutupi kepala. Yakni, sesuatu yang melindungi kepala dari hal yang dkhawatirkan menimpanya. Sedang dari segi istilah, taqwa kepada Allah Azza wa Jalla maknanya membuat penjagaan antara dirinya dengan balasan Allah yang ditakutinya, yaitu dengan menjalani segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dengan kemampuan semaksimal mungkin.

Kalimant taqwa didalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak 15 kali, dan itu belum termasuk pecahan katanya. Ini menunjukkan bahwa kedudukan dan pesan ajaran taqwa sangat ditekankan dalam Al-Qur’an. Derajat taqwa itu sangat tinggi dan banyak jalan menuju kepadanya. Namun, taqwa bukan sekadar ucapan yang membawa segala ganjaran baiknya. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah syair :

Seseorang ingin diberikan segala harapannya

Sedangkan ia mengabaikan Allah kecuali saat ada maunya

Berikut ini disajikan beberapa ayat dan hadits yang berkenaan dengan taqwa.

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian dengan sebenar-benarnya taqwa” (QS Ali ‘Imran:102)

Yang dimaksud dengan sebenar-benarnya taqwa adalah dengan berlaku taat, bukan maksiat, mengingat Allah, bukan melupakan-Nya, dan bersyukur, bukan kufur atas nikmat-nikmat-Nya.

“Dan barang siapa bertaqwa kepada Allah, dijadikan baginya jalan keluar (dari kesulitan), dan Dia memberikannya rizqi dari sisi yang tidak ia perkirakan.” (QS Ath-Thalaq:2-3)

Dalam Tafsir Al-Baidhawi diriwayatkan, ada seorang laki-laki bernama Salim bin ‘Auf bin Malik Al-Asyja’i yang ditawan oleh musuh. Lalu ayahnya mengadukan hal itu kepada Rasulullah SAW. Beliau bersabda, “Bertaqwalah kepada Allah dan perbanyaklah ucapan La haula wala quwwata illa billah (tidak ada daya dan upaya melainkan dengan izin Allah).”

Maka diamalkanlah perintah itu. Tak lama kemudian, ketika ia telah berada dirumahnya, tiba-tiba sang anak mengetuk pintu rumah dengan membawa ratusan unta (dalam riwayat yang lain sejumlah kambing dan perhiasan) yang ditelantarkan musuh yang lalu diambilnya.

Dari dua ayat ini dapat dipahami bahwa kita wajib untuk senantiasa bertaqwa kepada Allah Azza wa Jalla. Sesungguhnya ketaqwaan itu pula yang menjadi sebab datangnya keselamatan dari kesulitan dan terbukanya rizqi yang halal. Dengan sebab taqwa itu pula Allah jadikan didalam hati dan akalnya, cahaya yang mampu memberinya petunjuk kepada kebenaran yang kemudian diikutinya dan membedakan kebathilan yang kemudian dijauhinya.

Dari Abu Hurairh RA, ia berkata, Rasulullah ditanya, “Ya Rasulullah, siapakah manusia yang paling mulia?”

Rasulullah menjawab,”Orang yang paling bertaqwa diantara mereka.”

Si penanya berkata lagi, “Bukan ini yang kami tanyakan.”

Nabi berkata, “Yusuf putra Nabiyallah (Ya’qub) putra Nabiyallah (ishaq) putra Khalilullah (ibrahim).”

Si penanya berkata lagi, “Bukan ini yang kami tanyakan.”

Rasulullah berkata, “Apakah tentang bangsa Arab yang engkau tanyakan? Sebaik-baik mereka di masa Jahiliyah adalah yang paling baik juga di masa Islam jika mereka memahami syariat Islam.” (muttafaq ‘alaih).

Syarah Hadits

Hadits ini diriwayatkan Al-Bukhari dalam Kitab Para Nabi, Bab Allah Menjadikan Ibrahim Kekasih-Nya, sedangkan Muslim meriwayatkan dalam Kitab Keutamaan, Bab Keutamaan Nabi Yusuf AS.

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran.

Pertama, manusia dimuliakan dan dihormati dengan sebab ketaqwaannya kepada Allah Ta’ala, dan orang yang bertaqwa memiliki banyak kebaikan didunia dan ketinggian derajat di akhirat.

Kedua, manusia akan dihormati dengan sebab kehormatan nenek moyang dan keluarganya yang memang orang-orang bertaqwa dan ia mengikuti jalan mereka yang bertaqwa. Itulah yang ada pada Nabi Yusuf AS, yang mewarisi watak mulia ayah, kakek dan buyutnya, sebagaimana tersebut dalam hadits itu.

Ketiga, orang-orang Arab yang hidup dimasa Nabi SAW adalah orang-orang yang baik sebelum memeluk Islam dan semakin baik saat memeluk Islam dengan banyak mengkaji ilmu-ilmu syariat.

Al-Qadhi’Iyadh, ulama terkemuka, berkata, hadits ini telah memberikan tiga jawaban tentang kemuliaan manusia seluruhnya, baik umum dan khusus, global dan maupun terperinci, yakni yang beragama dengan taqwa, tentang kenabian dan pengakuan akan kenabiannya, serta tentang memeluk Islam dengan memahami syariatnya.

Dari Abu Sa’id Al_khudri RA, dari Nabu SAW, beliau bersabda, “Sesungguhnya dunia itu sangat manis dan indah. Dan sesungguhnya Allah menyerahkannya kepada kalian lalu Dia memperhatikan apa yang kalian perbuat. Takutlah tentang dunia dan takutlah tentang wanita, karena sesungguhnya yang pertama kali menjadi fitnah (ujian) yang menimpa Bani Israil ialah wanita” (HR Muslim)

Syarah Hadits

Hadits ini diriwayatkan Muslim dalam Kitab Pembebasan, Bab Penduduk Surga Paling Banyak ialah Orang Miskin dan Penduduk Neraka Paling Banyak ialah Perempuan, dan Penjelasan tentang Fitnah Perempuan.

Dunia diiberatkan buah-buahan yang sangat manis rasanya dan hijau elok dipandang mata sehingga menggiurkan orang untuk menikmatinya. Yang dimaksud takut terhadap dunia adalah takut dari godaan-godaan duniawi, sedangkan takut terhadap wanita yakni takut terhadap fitnah atau cobaan dari wanita. Fitnah disini memiliki makna yang banyak, seperti kesesatan, ujian, dan kekaguman kepada sesuatu yang kemudian melalaikan dari taqwa yang sesungguhnya.

Hadits di atas mengandung sejumlah pelajaran.

Pertama, Allah mewariskan dunia ini kepada manusia, bukan makhluk-Nya yang lain, untuk mengelolanya dan Allah pun mengawasinya.

Kedua, peringatan agar waspada terhadap godaan wanita dengan cara menjauhi sebab-sebab langsung yang dapat membangkitkan gairah syahwat yang terpendam, seperti ikhtilath (bercampur atau berdua-duaan) dengan ajnabiyyah (wanita yang bukan mahram), memandang bagian-bagian tubuhnya atau bersenang-senang dengan mereka.

Ketiga, agar mengambil pelajaran dari umat-umat terdahulu, seperti fitnah yang menimpa Bani Israil.

Menurut pensyarah kitab Al-Anwar As-Saniyyah, hal ini menyangkut kisah Harut dan Marut, yang keduanya terperdaya oleh seorang wanita Bani Israil, dan kisah Bal’am bin Ba’ura’, yang kehidupannya hancur lantaran tunduk kepada istrinya, serta banyak orang terkemuka lainnya yang hancur lantaran wanita.

Dari Abu Umamah Shudayy bin ‘Ajlan Al-Bahili RA, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW berkhutbah pad Haji Wada, beliau bersabda, “Bertaqwalah kalian kepada Allah, dirikan shalat lima waktu, berpuasalah di bulan Ramadhan, tunaikanlah zakat harta, dan taatlah kepada pemimpin, niscaya kalian masuk surga Tuhan kalian.” (HR Tirmidzi)

Syarah Hadits

Hadits di atas diriwayatkan at-Tirmidzi dalam Bab Shalat Jumat. Periwayat hadits ini, yakni abu Umamah, meriwayatkan 250 buah hadits. Menjelang akhir hayatnya ia tinggal di Himsh, Syam (Syiria). Ia wafat di sana pada tahun 86 H, dan ia adalah sahabat yang wafat paling akhir di Syam.

Hadits ini menyebutkan lima hal yang dapat memasukkan orang yang mengamalkannya ke dalam surga. Yakni, bertaqwa, mendirikan shalat lima waktu, berpuasa sebulan penuh dibulan Ramadhan, membayar zakat dari harta yang dimilikinya, dan taat kepada pemimpin selama pemimpin itu tudak berbuat zhalim dan menyuruh bermaksiat kepda Allah Ta’ala. AB*AP

Catatan :

Kata ajbabiyyah berarti “wanita yang bukan mahram”. Sesungguhnya, kata muhrim itu artinya “Orang yang sedang bermahram”. Tetapi, dalam penggunaan sehari-hari, orang menggunakan kata muhrim untuk pengertian “perempuan yang tak boleh dinikahi”. Dengan ini kami alkisah, bersikap bahwa untuk makna itu, yang digunakan adalah kata mashram. Demikianlah, insya Allah, kami akan konsisten dengan sikap ini.

Sumber : Alkisah No.10/Tahun VI/2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: