Madzhab Hambali

Paling Dekat dengan Sunnah

Pendiri madzhab ini adalah seorang muhaddits besar. Fatwa-fatwa madzhabnya sangat berpegang teguh pada  hadits-hadits Rasul, walaupun ada yang tingkatannya dha’if.

Madzhab fiqih besar yang menempati urutan keempat berdasarkan periodisasi kemunculannya adalah Madzhab Hambali, yang didirikan oleh muhaddits besar Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal. Madzhab ini muncul di kota kelahiran pendirinya. Baghdad, pada akhir abad ketiga dan awal abad kedua, yang bertepatan dengan masa pemerintahan Daulah Bani Abbasiyah.

Berbeda dengan gurunya, Imam Syafi’I, yang menuangkan metode istinbath (penggalian hukum)-nya dalam sebuah kitab. Imam Ahmad tak pernah merumuskan metode istinbath dalam sebuah karya tulis. Sistem penggalian hukum yang dikembangkannya dikenali belakangan melalui penjabaran murid-murid dan pengikutnya yang menganalisa fatwa-fatwa sang imam.

Bahkan Imam Ahmad tidak pernah mengumpulkan fatwa-fatwanya secara khusus dalam sebuah buku. Murid-murid dan pengikutnyalah yang kemudian berjasa mengumpulkan, membukukan, dan mengembangkan madzhab ulama yang dikenal sangat bersahaja itu.

Salah satu kitab kumpulan fatwa Imam Ahmad bin Hanbal adalah Al-Jami’ul Kabir, karya Syaikh Ahmad bin Muhammad Al-Khalal, yang berkelana ke berbagai daerah untuk menjumpai murid-murid Imam Ahmad, seperti Ahmad bin Muhammad bin Abdul Azis Al-Maruzi, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal. Shalih bin Ahmad bin Hanbal. Dari mereka yang mendengar langsung dari sang imam itulah fatwa-fatwa tersebut dicatat.

Dibandingkan dengan madzhab-madzhab fiqih lain, perkembangan pengikut Madzhab Hanbal bisa dibilang yang paling tersendat. Menurut sejarawan muslim, hal ini disebabkan rata-rata ulama Madzhab Hanbali enggan duduk dalam pemerintahan., seperti menjadi qadhi (hakim) atau mufti. Karena menolak menjadi pejahat pemerintah, otomatis madzhabnya pun tidak pernah menjadi madzhab  resmi negara. Padahal dengan  menjadi madzhab resmi negara, bisa dipastikan suatu madzhab  akan berkembang pesat diwilayah kekuasaan pemerintah tersebut.

Madzhab Hanbali terkenal sangat ketat dan teguh dalam menggunakan dasar sunnah. Tak mengherankan dalam berbagai literatur, madzhab ini jugs sering disebut dengan nama fiqh assunnah. Lihat saja porsi sunnah dalam kerangka  dan pondasi madzhab ini, yang menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziah, salah seorang ulama Madzhab Hambali, dibangun diatas lima hal :

(1). Al-Qur’an dan Sunnah

(2). Fatwa sahabat (baik yang disepakati maupun diperselisihkan)

(3). Hadits mursal (hadits yang diriwayatkan oleh tabi’in dari Nabi Muhammad SAW)

(4). Hadits dha’if

(5). Ijtihad; meode ijtihad yang lazim digunakan adalah qiyas (analogi)

Kedudukannya Sejajar

Menurut Imam Ahmad. Al-Qur’an dan Sunnah memang memiliki kedudukan yang sejajar sebagai dasar hukum.  Alasannya, kehujjahan sunnah Nabi ditetapkan oleh Al-Qur’an, dan sunnah Nabi sendiri merupakan penjelasan isi Al-Qur’an yang dipaparkan oleh orang yang  memang ditunjuk dan diberi mandat langsung oleh Allah untuk menjelaskannya. Meski sejajar, dalam prakteknya, Imam Ahmad selalu mendaulukan nash Al-Qur’an.

Bagi Imam Ahmad, jika sudah ditemukan suatu nash sunnah yang bisa dijadikan dasar hukum suatu masalah, ia akan berpegang teguh padanya, meski pendapat dalam hadits  tersebut berbeda dengan pendapat para sahabat.

Setelah sunnah Rasulullah SAW, Imam Ahmad juga mendasarkan hukumnya pada ijma’ sahabat, dengan syarat benar-benar terjadi, isalnya tentang kewajiban shalat lima waktu, puasa, zakat, dan haji. Selanjutnya, seperti gurunya, Imam Syafi’I, jika masih belum menemukan dasar hukum juga, Imam Ahmad menggunakan pendapat sahabat yang tidak diketahui ada perselisihan. Lalu pendapat sahabat yang diketahui terdapat ikhtilaf. Dalam menyikapi perbedaan pendapat tersebut, Imam Ahmad mengambil pendapat yang paling dekat dekat dengan dasar yang lebih kuat.

Menurut Syaikh Salim As-Saqafi, guru besar ilmu fiqih di Universitas Ummul Qura, Makkah, sebenarnya, selain menggunakan qiyas dalam ijtihadnya, Imam Ahmad juga menggunakan metode ijtihad lainnya, seperti istishab (penetapan atau berlakunya hukum terhadap suatu perkara atau dasar hukum itu berlaku sebelumnya. Karena tidak adanya illat yang mengharuskan terjadinya perubahan hukum tersebut), syadudz dzari’ah atau saddud dzaea’) (melarang suatu perbuatan yang pada dasarnya mubah, karena diperkirakan akan memunculkan hal neatif di belakang hari), dan maslahah mursalah (kemaslahatan yang tidak didukung atau dilarang oleh dalil tertentu).

Contoh fatwa Imam Ahmad bin Hanbal, antara lain, dalam hal muamalah, calon istri boleh mengajukan syarat pernikahan kepada calon suaminya, misalnya tidak akan dimadu selama hidup. Jika sang calon suami menyetujui, ia terikat perjanjian itu. Dan jika perjanjian itu dilanggar, sang istri berhak mengajukan fasakh (pembatalan ikatan pernikahan).

Sedangkan dalam hal ibadah, misalnya, orang yang tertidur sambil berdiri, duduk atau ruku; hingga tersungkur jatuh, tidak membatalkan wudhunya. Kemudian shalatnya makmum diluar masjid yang bisa mengikuti gerakan imam, hukumnya sah, meskipun pintu masjid dalam keadaan tertutup.

Mujtahid Mutlak

Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal lahir di Baghdad pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 164 H. Masa kecilnya dilalui dalam keadaan sangat miskin, ayahnya hanya meninggalkan sebuah rumah kecil dan tanah yang sempit. Pada masa remajanya, ia pernah bekerja sebagai buruh pembantu ditempat tukang jahit, menjadi juru tulis, buruh penenun kain dan kuli angkut barang-barang dipasar.

Imam Ahmad memang miskin dan selalu bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup, namun ia adalah pelajar yang gigih. Jangan heran, dalam usia 14 tahun, ia telah hafal Al-Qur’an dan mengarang sebuah kitab.

Pada awalnya Imam Ahmad belajar fiqh aliran ra’yu (logika, aliran Imam Hanafi) kepada Abu Yusuf Al-Baghdadi. Sedangkan hadits dan ilmu hadits dipelajarinya secara mendalam kepada beberapa muhadditsin Baghdad, terutama Imam Hasyim bin Basyir bin Abi Hazim Al-Wasithi.

Kemudian Imam Ahmad mengembara ke Kufah, Basrah, Madinah, Makkah, dan Yaman. Ketika di Makkah, ia sempat memperdalam ilmu ushul fiqih kepada mujtahid besar zaman itu, Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’I, pendiri Madzhab Syafi’i.

Selain puluhan tahun mengembara mencari ilmu, tepat ketia usianya genap empat puluh tahun, Imam Ahmad bin Hanbal kembali ke Baghdad dan mulai membuka majelis pengajian. Tingkat kealimannya yang sangat tinggi membuatnya mamou melakukan ijtihad mutlak secara mandiri, tanpa menggantungkan diri kepada hasil ijtihad ulama lain. Melalui halaqahnya itulah Madzhab Hambali lahir dan menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Rezim yang Anti Perbedaan

Dalam sejarah, Imam Ahmad dikenal sebagai seorang yang sanat teguh imannya. Dalam menegakkan kebenaran yang diyakininya. Ia sama sekali tidak mengenal kata takut. Separuh hidupnya dihabiskan didalam penjara Dinasti Abbasiyyah, yang sejak masa pemerintahan Al-Ma’mun menganut paham Mu’tazilah, yang berpendapat bahwa Al-qur’an adalah makhluk.

Suatu ketika Al-Ma’mun mengadakan pertemuan para ulama besar, untuk memperbincangkan Al-Qur’an itu adalah makhluk. Dengan sedikit intimidasi, Al-Ma’mun mengharapkan pendapat tersebut akan diterima para ulama.

Dan benar, karena takut, mayoritas ulama memilih diam. Satu-satunya ulama yang menentang keras pendapat Al-Qur’an makhluk adalah Imam Hanbali.

Dengan lantang ia berkata, “Al-Qur’an bukanlah makhluk yang dijadikan Allah tetapi ia adalah kalamullah”.

Tak ayal, ia pun ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Beberapa hari kemudian datang surat dari Tharsus yang meminta supaya Imam Ahmad dibawa dengan dirantai tangan dan kakinya. Di sana ia menerima hukuman cambuk.

Ketika cambuk yang pertama singgah dipunggungnya, Imam Ahmad mengucapkan ‘Bismillah’.

Pada cambukan kedua, ia mengucapkan, ‘Laa haula wa la quwwata illaa billah (Tiada daya dan kekuatan apapun kecuali dengan izin Allah).’

Pada cambukan ketigam ia mengucapkan, ‘Al-qur’an kalamullah ghairu makhluq (Al-Qur’an adalah kalam Allah nukan makhluk).’

Dan ketika sampai pada cambukan yang keempat, ia membaca surah At-Taubah ayat 51, “Katakanlah: Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang ditetapkan oleh Allah bagi kami.”

Dan luka-luka diseluruh badannya, mengalir darah, kemudian,, dalam keadaan sudah tak berdaya, ia dimasukkan kembali kedalam penjara.

Imam Ahmad pernah dikunjungi bekas penjahat yang bernama Abdul Haitsam Al-Ayyar. Bekas penjahat itu berkata, “Wahai Imam, saya ini seorang pencuri yang didera dengan beribu-ribu cambukan, namun saya tidak mau mengakui perbuatan saya, padahal saya salah. Maka janganlah Imam gelisah dalam menerima dera, sebab engkau dalam kebenaran.”

Penyiksaanpun terus berlangsung berkali-kali dan hari-hari. Suatu saat, ketika tengah dicambuk, Imam Ahmad merasakan tali celana yang menutup auratnya putus dan hampir turun ke bawah. Ia pun menangkat mukanya ke atas sambil berdoa, “Ya Allah, dengan nama-Mu yang menguasi Arsy, jika menurut-Mu aku ini benar, jangan Engkau biarkan penutup auratku jatuh.” Seketika itu pula celananya yang akan jatuh itu naik kembali.

Penahanan dan penyiksaan Imam Ahmad dan beberapa ulama anti Mu’tazilah laim masih berlangsung pada era Al-Mu’tashim, pengganti Al-Ma’mun, dan putranya, Al-Watsiq. Bahkan tercatat dalam sejarah, Al-Watsiq pernah memancung leher ulama terkenal, Ahmad bin Naser Al-Khuza’i.

Baru setelah Al-Watsiq meninggal dunia, saudara yang menggantikannya, Al-Mutawwakkil, menghapus paham Mu’tazilah dan membebaskan semua ulama yang ditahan, termasuk Imam Ahmad bin Hanbal. Sebagai permohonan maaf, Al-Mutawwakkil menghadiakan uang 10.000 dirham kepada Imam Ahmad. Namun hadiah tersebut ia tolak. Karena dipaksa akhirnya ia pun menerimanya, tapi dibagi-bagikan kepada fakir miskin.

Beberapa bulan setelah pembebasannya, pada hari Jum’at 2 Rabi’ul Awwal 241 H / 855 M, Imam Ahmad bin Hanbal wafat, dalam usia 77 tahun. Sebelum dimakamkan, jenasah pendiri Madzhab Hambali ini disembahyangkan oleh lebih dari 130.000 umat islam.

Sumber  Alkisah No.18/25 Agt-7 Sept 2008

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: